
ternyata, kadang-kadang kita perlu belajar dari orang yang oleh orang lain dianggap gila alias tidak waras. adalah seorang nenek-nenek yang oleh masyarakat, apalagi masyarakat sekolah kami, dianggap gila n tidak waras. kurang lebih 3 tahun dia selalu menghantui alias berkeliaran di lingkungan kampus sekolah. berbagai cara dilakukan untuk mengusir dia, mulai cara halus sampai kasar, bahkan sangat kasar sudah dilakukan. termasuk saya, pada awalnya sangat menginginkan dia pergi dari lingkungan sekolah. namun,.... ketika saya mendapat job membuat tempat parkir di sekolah,... otomatis kerja lembur... si nenek yang sering disebut Mbah Pencu (banyak yang tidak tahu nama aslinya.... pada saya dia mengaku bernama Suparsi..) sering nunggoni saya kerja sehingga terjadilah hubungan interaksi. dengan setia dia membuatkan kopi, membelikan es.. dll. plus cerita masa lalunya yang kadang tragis. bahkan ada anak buah saya yang diberi rapalan untuk "melet" (saya sih nggak tahu dan belum tahu khasiatnya). dari situ saya mulai banyak mengerti tentang dia,.. ada sisi kehidupan suram dimasa lalu yang dideritanya. ada filsafat "Narimo dan Pasrah" saya rasakan sangat dalam. dan ketika ada yang mengomentari saya kok bisa dekat dengan orang "gila" itu, sayapun hanya menjawab kalau dia juga manusia dengan kelebihan dan kekurangannya (bukan sok alim lho) dan kita tidak dalam segala hal lebih baik dari dia. Mbah Pencu,... maafkan saya selama ini sangat merendahkan dan kurang nguwongke... juga teman-teman dan murid-murid saya saya, yang banyak tidak tahu tentang Mbah Pencu.
No comments:
Post a Comment